Posted by: tekku | October 29, 2007

Be Part of Global Warming Awareness

Andapun bisa Jadi Sahabat Lingkungan

Dari:  Kompas, Kamis, 15 desember 1994 halaman 9

Sri Lanka tahun 1992.  Sebuah hotel di kota Habarane memasang tulisan ini di atas wastafel:  Bantulah melindungi lingkungan kami.  Silakan menggunakan gelas yang tersedia bila Anda menggosok gigi.  Matikan shower bila Anda sedang bersabun.  Air yang dihemat akan memperpanjang kelangsungan air tanah kami.”

Bayangkan, di pelosok suatu negara yang segala-galanya kalah dibanding Indonesiabaik pendapatan per kapita, tingkat pendidikan, maupun kestabilan politikjustru ditemukan upaya pelestarian lingkungan yang amat nyata.

Sesuatu yang sungguh bertolak belakang dengan tingkat kepedulian masyarakat di Indonesia .

Di Jakarta, yang katanya kebanyakan penduduknya sangat berpendidikan dan berpenghasilan besar, menyelamatkan lingkungan hanyalah sebuah slogan besar yang melayang di awang-awang.  Kebiasaan masyarakat yang hanya tahu beres membuat urusan lingkungan tampaknya hanya menjadi beban pemerintah semata.  Kalaupun ada yang peduli, jumlahnya pasti dapat dihitung tanpa harus bersusah payah.

Ketika musim kemarau sedang terik teriknya memanggang Jakarta dan sebagian penduduk berkeluh kesah kekurangan air bersih misalnya, dengan mudah bisa dijumpai mobil-mobil yang dicuci setiap hari dengan air bersih berlimpah-limpah di depan rumah.  Air itu disedot dari kedalaman tanah puluhan meter, yang sebenarnya sudah ada aturannya di DKI.  Tetapi, siapakah yang peduli?

Berapakah pula yang masih ingat untuk mematikan keran wastafel, ketika sedang menggosok gigi?  Sebuah penelitian di Singapura menunjukkan, air keran yang dibiarkan mengalir selama menggosok gigi bisa mencapai 9 liter, sama dengan setengah isi botol air mineral yang suka ditaruh di atas dispenser itu.

Tetapi sekali lagi, siapa pula yang peduli?  Siapa pula yang ikut khawatir, ketika para ahli menyatakan persediaan air di Jakarta hanya cukup untuk 10 tahun lagi?

Kenyataan malah menunjukkan, tidak ada perubahan gaya hidup yang berarti.  Daerah-daerah resapan yang seharusnya dibiarkan menjadi ruang terbuka, justru ditumbuhi ribuan rumah.  Kekeringan yang muncul di musim kemarau dan banjir yang datang di musim hujan lebih dianggap sebagai peristiwa rutin yang memang sudah demikian adanya.  Jadi bukan akibat kelalaian Anda, saya, atau kita semua.

Memang harus diakui, tidak semua orang mau dan menyadari bahwa pola kehidupan modern sekarang ini sangat mempengaruhi lingkungan dan kondisi bumi secara keseluruhan.  Kalau Anda iseng dan mencoba mengkaji satu per satu cara hidup ini dari hari ke hari, maka hasilnya barangkali akan mengejutkan.

Listrik misalnya, berapa kilowattkah yang Anda konsumsi setiap hari untuk komputer, lemari es, AC dan seringkali juga lampu yang terus menyala di siang bolong? Berapa banyak pula kemasan yang Anda buang setiap hari setelah belanja dari pasar swalayan, toko serba ada, atau sekedar membeli makan siang?

Mungkin Anda juga tak menyadari, sumpit, tisu, piring kertas, Styrofoam, sampai cup es krim yang dibuang sesudah makan itu, dalam proses produksinya ada yang harus menebang pohon untuk bahan baku .  Sementara setelah dibuang pun masih ada yang menambah tumpukan sampah yang tidak bisa didaur ulang.

Manajer Program Pengelolaan Sampah Salhi, Ade Christina, menyebutkan bahwa penggunaan kemasan pada produk pangan untuk konsumsi rumah tangga telah meningkat antara 10-30 persen per tahun.  Di antara kemasan itu, tentu saja yang paling popular adalah plastik termasuk tas kresek – yang kini sudah mencapai 2,5 persen dari sampah yang ada.  Tahukah Anda, bahwa plastik itu apabila ditimbun masih memakan waktu 250 tahun untuk menghancurkannya?

Sampah, memang merupakan bagian lain dari masalah lingkungan di Jakarta dan berbagai Negara lain di seluruh dunia, yang selalu membuat para penanggung jawab kota kalang kabut.  Saat ini misalnya, sekitar 8,2 juta penduduk Jakarta menghasilkan sampah sebanyak 25,7 meter kubik setiap hari.  Dalam waktu lima hari saja, maka sampah yang dihasilkan sudah setinggi Monas!

Sesungguhnya, Anda pun bisa ikut andil dalam menjaga kelestarian di bumi ini.  Dengan melaksanakan imbauan hotel di Sri Lanka itu sebagai salah satu kebiasaan sehari-hari saja, Anda sudah membantu menghemat penggunaan air bersih.  Kalau Anda tinggal di Jakarta , maka upaya Anda akan turut memperpanjang jangka waktu cadangan ir yang bisa digunakan.

Untuk bersahabat dengan lingkungan, memang bukan hal yang susah.  Selama Anda mengikuti prinsip lingkungan di bawah ini:  Reduce, Reuse, dan Recycle (mengurangi, memakai kembali, dan mendaur ulang) dalam setiap aktivitas yang Anda kerjakan, Anda sudah bisa menjadi sahabat lingkungan sejati.

Hasil print out dari komputer yang sudah tak terpakai misalnya, bisa dimanfaatkan menjadi memo intern pada sisi yang masih kosong.  Kalau mau fotokopi, usahakan pula bolak-balik supaya menghemat kertas.  Demikian pula amplop surat yang Anda terima dari luar, bisa digunakan kembali untuk mengirim surat atau benda kecil-kecil antar kolega di kantor.  Ini akan mengurangi pemakaian kertas dan sekaligus menurunkan tumpukan sampah yang biasanya menggunung setiap hari.

Kelihatannya memang tidak keren, tetapi tak perlu malu melakukannya.  Soalnya, banyak karyawan perusahaan di AS sudah melaksanakan hal yang sama.  Perusahaan multinasional 3M misalnya, yang banyak menghasilkan kertas komputer, disket, dan berbagai keperluan kantor, bisa menghemat jutaan dollar ketika karyawannya menerapkan 3R.

Beberapa kiat mereka yang bisa ditiru adalah komputer dimatikan setiap meninggalkan meja lebih dari 15 menit.  Lampu dan AC dibuat tidak tersentralisasi, sehingga bisa dimatikan pada bagian yang tak dipakai bekerja.  Dan berbagai kertas dan amplop bekas dipakai untuk memo intern.

Tentang pengurangan sampah plastik, mengapa Anda tidak mencoba membawa tas sendiri setiap berbelanja?  Dengan demikian, tak perlu lagi meminta tas kresek dari toko untuk mengangkut barang belanjaan Anda.  Jangan lupa pula membawa rantang yang bisa dipaka ratusan kali, bila Anda ingin membeli lauk untuk dimakan di rumah?

Pada kasus ini, tugas Anda memang lebih kepada mengurangi penggunaan atau pembelian barang yang berpotensi menjadi sampah.  Cara inilah yang akan membantu mengatasi persoalan sampah langsung dari sumbernya.

Namun di sisi lain, seharusnya pemerintah juga peka mengantisipasinya.  Menurut Ade Christina, pemerintah perlu membuat peraturan untuk membatasi produsen menghasilkan sampah, yang selama ini tidak pernah ada.

Peraturan pemerintah DKI Jakarta nomor 5 tahun 1988 tentang kebersihan lingkungan misalnya, hanya mengatur pengelolaan sampah yang sudah ada.  Peraturan itu belum mencakupcalonsampah dari kemasan yang dihasilkan para produsen.

Kalau ini semua dijalankan, pastilah lingkungan hidup kita kembali menyenangkan.  Siapa yang tidak suka, kalau aliran listrik dan air l a n c a r, dan tak ada lagi tumpukan sampah yang mengganggu pemandangan di berbagai sudut kota.  (nes)

                                                                  * * *

P  Please consider the environment before printing this e-mail.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: